Oleh Althaf pada Selasa 02 Maret 2010, 07:04 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Teknologi Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax) yang merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau BWA) dengan kecepatan akses tinggi dan berjangkauan luas diprediksi akan semakin lambat berkembang di Indonesia.
"WIMAX tidak memiliki mobilitas untuk menyediakan sambungan broadband hingga ke desa-desa terpencil di Indonesia," kata Senior Director, Services, GSM Association (GSMA), Jaikishan Rajaraman dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (1/3).
Ia menambahkan, jika dibanding dengan teknologi pesaing seperti 3G/HSPA, WIMAX memang belum mampu menawarkan sambungan Mobile Broadband yang memberikan solusi jangkauan hingga ke pelosok-pelosok pulau, karena masih terus bermain dalam cakupan yang lebih spesifik dan lebih berperan sebagai pelengkap saja.
Menurut dia, sampai saat ini, hanya teknologi HSPA yang dapat menjangkau ke wilayah manapun dan memiliki kemampuan mobilitas yang sesungguhnya melalui berbagai jenis perangkat yang tersedia saat ini.
"Lebih jauh lagi, WiMAX lebih dikenal hanya sebagai pengganti fixed line broadband sehingga tidak mampu menawarkan mobilitas yang sebenarnya," katanya.
Menurut Ovum, sebuah analis industri terkemuka, WiMAX hanya akan menguasai kurang dari 5 persen dari 1.5 miliar sambungan akses fixed maupun Mobile Broadband di pasar negara-negara berkembang pada 2014.
"Penetrasi WiMAX selama ini sangat lamban menurut perusahaan analis Maravedis, ada sekitar 200 jaringan WiMAX, dan sekitar 200 lagi jaringan yang masih dalam masa uji coba, di 135 negara dan secara global hanya melayani 4,73 juta pelanggan," katanya.
Jika dibanding dengan pesaingnya yakni HSPA yang memiliki lebih dari 200 juta sambungan HSPA dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 9 juta per bulan, di seluruh dunia, maka WiMAX sudah sangat jauh ketinggalan, katanya.
Saat ini hanya terdapat sekitar 120 perangkat WiMAX yang kini telah disertifikasi atau jauh ketinggalan dibanding dengan lebih dari 1.800 untuk HSPA.
"Ekosistem HSPA memungkinkan terciptanya skala ekonomis yang besar dan juga karena ketatnya kompetisi, maka terdapat banyak pilihan bagi konsumen maupun dunia usaha," katanya.
WiMAX sendiri merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik yang mampu memberikan kecepatan data tinggi dan merupakan teknologi dengan open standar.
Teknologi Wimax tidak proprietary dengan kecepatan data mencapai 70 MBps sehingga diklaim dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband last mile, ataupun backhaul. (inilah/arrahmah.com)
Selasa, 09 Maret 2010
WiMAX Diprediksi Lambat Berkembang di RI
Oleh Althaf pada Selasa 02 Maret 2010, 07:04 AM
JAKARTA (Arrahmah.com) - Teknologi Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax) yang merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau BWA) dengan kecepatan akses tinggi dan berjangkauan luas diprediksi akan semakin lambat berkembang di Indonesia.
"WIMAX tidak memiliki mobilitas untuk menyediakan sambungan broadband hingga ke desa-desa terpencil di Indonesia," kata Senior Director, Services, GSM Association (GSMA), Jaikishan Rajaraman dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (1/3).
Ia menambahkan, jika dibanding dengan teknologi pesaing seperti 3G/HSPA, WIMAX memang belum mampu menawarkan sambungan Mobile Broadband yang memberikan solusi jangkauan hingga ke pelosok-pelosok pulau, karena masih terus bermain dalam cakupan yang lebih spesifik dan lebih berperan sebagai pelengkap saja.
Menurut dia, sampai saat ini, hanya teknologi HSPA yang dapat menjangkau ke wilayah manapun dan memiliki kemampuan mobilitas yang sesungguhnya melalui berbagai jenis perangkat yang tersedia saat ini.
"Lebih jauh lagi, WiMAX lebih dikenal hanya sebagai pengganti fixed line broadband sehingga tidak mampu menawarkan mobilitas yang sebenarnya," katanya.
Menurut Ovum, sebuah analis industri terkemuka, WiMAX hanya akan menguasai kurang dari 5 persen dari 1.5 miliar sambungan akses fixed maupun Mobile Broadband di pasar negara-negara berkembang pada 2014.
"Penetrasi WiMAX selama ini sangat lamban menurut perusahaan analis Maravedis, ada sekitar 200 jaringan WiMAX, dan sekitar 200 lagi jaringan yang masih dalam masa uji coba, di 135 negara dan secara global hanya melayani 4,73 juta pelanggan," katanya.
Jika dibanding dengan pesaingnya yakni HSPA yang memiliki lebih dari 200 juta sambungan HSPA dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 9 juta per bulan, di seluruh dunia, maka WiMAX sudah sangat jauh ketinggalan, katanya.
Saat ini hanya terdapat sekitar 120 perangkat WiMAX yang kini telah disertifikasi atau jauh ketinggalan dibanding dengan lebih dari 1.800 untuk HSPA.
"Ekosistem HSPA memungkinkan terciptanya skala ekonomis yang besar dan juga karena ketatnya kompetisi, maka terdapat banyak pilihan bagi konsumen maupun dunia usaha," katanya.
WiMAX sendiri merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik yang mampu memberikan kecepatan data tinggi dan merupakan teknologi dengan open standar.
Teknologi Wimax tidak proprietary dengan kecepatan data mencapai 70 MBps sehingga diklaim dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband last mile, ataupun backhaul. (inilah/arrahmah.com)
JAKARTA (Arrahmah.com) - Teknologi Worldwide Interoperability for Microwave Access (Wimax) yang merupakan teknologi akses nirkabel pita lebar (broadband wireless access atau BWA) dengan kecepatan akses tinggi dan berjangkauan luas diprediksi akan semakin lambat berkembang di Indonesia.
"WIMAX tidak memiliki mobilitas untuk menyediakan sambungan broadband hingga ke desa-desa terpencil di Indonesia," kata Senior Director, Services, GSM Association (GSMA), Jaikishan Rajaraman dalam keterangan persnya di Jakarta, Senin (1/3).
Ia menambahkan, jika dibanding dengan teknologi pesaing seperti 3G/HSPA, WIMAX memang belum mampu menawarkan sambungan Mobile Broadband yang memberikan solusi jangkauan hingga ke pelosok-pelosok pulau, karena masih terus bermain dalam cakupan yang lebih spesifik dan lebih berperan sebagai pelengkap saja.
Menurut dia, sampai saat ini, hanya teknologi HSPA yang dapat menjangkau ke wilayah manapun dan memiliki kemampuan mobilitas yang sesungguhnya melalui berbagai jenis perangkat yang tersedia saat ini.
"Lebih jauh lagi, WiMAX lebih dikenal hanya sebagai pengganti fixed line broadband sehingga tidak mampu menawarkan mobilitas yang sebenarnya," katanya.
Menurut Ovum, sebuah analis industri terkemuka, WiMAX hanya akan menguasai kurang dari 5 persen dari 1.5 miliar sambungan akses fixed maupun Mobile Broadband di pasar negara-negara berkembang pada 2014.
"Penetrasi WiMAX selama ini sangat lamban menurut perusahaan analis Maravedis, ada sekitar 200 jaringan WiMAX, dan sekitar 200 lagi jaringan yang masih dalam masa uji coba, di 135 negara dan secara global hanya melayani 4,73 juta pelanggan," katanya.
Jika dibanding dengan pesaingnya yakni HSPA yang memiliki lebih dari 200 juta sambungan HSPA dengan tingkat pertumbuhan lebih dari 9 juta per bulan, di seluruh dunia, maka WiMAX sudah sangat jauh ketinggalan, katanya.
Saat ini hanya terdapat sekitar 120 perangkat WiMAX yang kini telah disertifikasi atau jauh ketinggalan dibanding dengan lebih dari 1.800 untuk HSPA.
"Ekosistem HSPA memungkinkan terciptanya skala ekonomis yang besar dan juga karena ketatnya kompetisi, maka terdapat banyak pilihan bagi konsumen maupun dunia usaha," katanya.
WiMAX sendiri merupakan evolusi dari teknologi BWA sebelumnya dengan fitur-fitur yang lebih menarik yang mampu memberikan kecepatan data tinggi dan merupakan teknologi dengan open standar.
Teknologi Wimax tidak proprietary dengan kecepatan data mencapai 70 MBps sehingga diklaim dapat diaplikasikan untuk koneksi broadband last mile, ataupun backhaul. (inilah/arrahmah.com)
Senin, 08 Maret 2010
Syawal Gultom: Ujian bagian dari evaluasi pendidikan
MEDAN - Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed), Syawal Gultom, mengatakan semua ujian termasuk juga Ujian Nasional (UN) merupakan bagian dari evaluasi dalam penyelenggaraan pendidikan.
"Evaluasi dalam pendidikan mutlak diperlukan sebab evaluasi dapat memberi pemetaan mengenai kondisi pendidikan nasional, sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah yang perlu diambil oleh pemerintah untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan kedepan," katanya di Medan, tadi sore.
Berbicara pada seminar Pendidikan Nasional "Kontroversi UN" yang dilaksanakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Unimed, ia menjelaskan, hasil pemetaan dapat memberi gambaran kelemahan ataupun kekuatan yang ada dalam pelaksanaan pendidikan nasional, yang akhirnya dapat digunakan untuk perbaikan berikutnya.
Secara konseptual, ujian nasional dapat menyediakan informasi bagi stakeholders (pemangku kepentingan-red) tentang prestasi belajar yang dicapai oleh setiap peserta didik, sekolah, kabupaten/kota, provinsi dan prestasi nasional secara keseluruhan.
Karena nilai atau angka yang dihasilkan berada pada suatu skala baku nasional, maka informasi tersebut dapat digunakan untuk membandingkan prestasi belajar antar sekolah, kabupaten/kota dan antar provinsi.
Hasil UN ini juga secara konseptual merupakan informasi yang dapat berperan sebagai pendorong bagi siswa, guru, sekolah dan pelaku pendidikan lainnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.
"Dengan mengetahui kualitasnya, seseorang, sekolah atau suatu daerah diharapkan terpacu untuk melakukan berbagai upaya yang sehat guna mempertahankan dan meningkatkan prestasinya yang telah diperolehnya itu, bahkan jika bisa dapat lebih ditingkatkan," katanya.
Menurutnya, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, serta memberi kontribusi sigifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial.
Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang maju, mandiri, demokratis dan bebas dari kemiskinan.
"Pendidikan merupakan investasi manusia yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi kerena manusia berfungsi sebagai salah satu faktor produksi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi," katanya.
Editor: SATRIADI TANJUNG
(dat06/ann)
"Evaluasi dalam pendidikan mutlak diperlukan sebab evaluasi dapat memberi pemetaan mengenai kondisi pendidikan nasional, sehingga dapat dirumuskan langkah-langkah yang perlu diambil oleh pemerintah untuk lebih meningkatkan mutu pendidikan kedepan," katanya di Medan, tadi sore.
Berbicara pada seminar Pendidikan Nasional "Kontroversi UN" yang dilaksanakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah Unimed, ia menjelaskan, hasil pemetaan dapat memberi gambaran kelemahan ataupun kekuatan yang ada dalam pelaksanaan pendidikan nasional, yang akhirnya dapat digunakan untuk perbaikan berikutnya.
Secara konseptual, ujian nasional dapat menyediakan informasi bagi stakeholders (pemangku kepentingan-red) tentang prestasi belajar yang dicapai oleh setiap peserta didik, sekolah, kabupaten/kota, provinsi dan prestasi nasional secara keseluruhan.
Karena nilai atau angka yang dihasilkan berada pada suatu skala baku nasional, maka informasi tersebut dapat digunakan untuk membandingkan prestasi belajar antar sekolah, kabupaten/kota dan antar provinsi.
Hasil UN ini juga secara konseptual merupakan informasi yang dapat berperan sebagai pendorong bagi siswa, guru, sekolah dan pelaku pendidikan lainnya untuk meningkatkan prestasi belajar siswa di sekolah.
"Dengan mengetahui kualitasnya, seseorang, sekolah atau suatu daerah diharapkan terpacu untuk melakukan berbagai upaya yang sehat guna mempertahankan dan meningkatkan prestasinya yang telah diperolehnya itu, bahkan jika bisa dapat lebih ditingkatkan," katanya.
Menurutnya, pendidikan memiliki peranan yang sangat penting dan strategis dalam pembangunan bangsa, serta memberi kontribusi sigifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan transformasi sosial.
Pendidikan akan menciptakan masyarakat terpelajar yang menjadi prasyarat terbentuknya masyarakat yang maju, mandiri, demokratis dan bebas dari kemiskinan.
"Pendidikan merupakan investasi manusia yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi kerena manusia berfungsi sebagai salah satu faktor produksi yang dapat memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi," katanya.
Editor: SATRIADI TANJUNG
(dat06/ann)
Selasa, 02 Maret 2010
Akhirnya Diketahui Wanita Lebih Pintar dari Pria

INILAH.COM, Jakarta - Sebuah kesimpulan berhasil diperoleh setelah kontes lima bulan antara laki-laki dan perempuan yang dipandu dengan sembilan bahasa dan berdasarkan game populer Trivial Pursuit.
Selama kompetisi itu, lebih dari 15 juta pertanyaan ditanyakan dan meskipun ada keseimbangan yang berpindah-pindah dari awal kompetisi pada bulan Oktober 2009 lalu, akhirnya memberikan kemenangan tipis bagi kaum perempuan.
Wanita menjawab 4.088.139 pertanyaan benar, dibandingkan dengan 4.077.596 pertanyaan yang benar dijawab oleh pria.
Jika dimainkan sendirian, maka akan membutuhkan waktu nonstop 3500 hari atau 9 tahun, 215 hari, 8 jam dan 24 menit untuk menjawab jumlah pertanyaan yang sama. Game tersebut yang pertama kali diluncurkan pada tahun 1982.
Sementara kategori pertanyaan dipilih agar sesuai dengan kecerdasan alamiah mereka. Kategori yang paling populer sejauh ini adalah hiburan, diikuti dengan sains dan alam, olahraga dan kesenangan, sejarah, literatur dan seni, geografi dan akhirnya orang dan lokasi.
Wanita ternyata lebih kuat ketika menjawab pertanyaan kategori hiburan. Mereka menjawab dua kali lebih banyak daripada pria dari kategori tersebut, 56,8% memberikan jawaban tepat.
Pertanyaan favorit berikutnya adalah sains dan alam dengan angka 54,4% jawaban benar. Orang dan lokasi menghadirkan tantangan dengan 41,7% pertanyaan yang disediakan dengan jawaban benar.
“Pertempuran online Trivial Pursuit menguji antara pria dan wanita dari seluruh dunia untuk berkompetisi untuk menjadi tim yang paling pintar,” ujar Manajer Senior Global Trivial Pursuit Katreena Lines.[ito]
Label:
Wanita Lebih Pintar
Senin, 01 Maret 2010
Dampak Buruk Tanaman Transgenik Mulai Terbukti
-depan.jpg)
Tanaman transgenik yang dihasilkan dari rekayasa genetik terus menimbulkan polemik. Ketakutan akan dampak buruk tanaman transgenik bagi kesehatan mulai terbukti.
Perusahaan bioteknologi raksasa Amerika, Monsanto, yang memproduksi tanaman GMO (Genetically Modified Organism) dipaksa oleh publik anti GMO untuk melakukan studi membuktikan efek buruk produk tersebut bagi kesehatan dan lingkungan.
Monsanto pun mempercayakan studi tersebut pada peneliti Perancis, Dr Gilles Eric Seralini dari University of Caen. Hewan percobaan yang diberi tiga tipe jagung hasil modifikasi genetik dilaporkan mengalami gejala kerusakan organ liver dan ginjal.
"Hasil studi kami tidak menunjukkan adanya racun, hanya gejala keracunan. Tapi kami yakin ini bukan racun yang akut, namun tidak ada yang bisa menjamin juga produk itu tidak memiliki efek kronis," ujar Dr Seralini seperti dilansir Dailymail, Jumat (22/1/2010).
Eksperimen dilakukan dengan menguji tiga strain produk jagung GMO yang tahan pestisida. Ketiga jenis produk tersebut kemudian diberikan pada tikus percobaan. Setelah tiga bulan, peneliti melakukan pengujian terhadap beberapa fungsi organ dan hasilnya ditemukan beberapa keganjilan pada bagian liver dan ginjal.
"Secara statistik kami menemukan bahwa tikus yang diberi strain produk GMO mengalami gejala kerusakan pada bagian ginjal dan hati. Terdapat ketidaknormalan konsentrasi hormon pada darah dan urin tikus," kata Dr Seralini.
Semakin tinggi konsentrasi hormon tersebut diduga semakin besar pula risiko kerusakan organ liver dan ginjal. Hasil studi ini dilaporkan dalam the International Journal of Microbiology.
Meski demikian, menurut Dr Seralini studi lebih lanjut masih harus terus dilakukan dan dibuktikan pada manusia.
Tanaman transgenik biasanya dimodifikasi atau disisipkan gen tertentu dengan tujuan untuk memperbaiki sifat-sifat yang diinginkan seperti meningkatkan resistensi terhadap pestisida, hama, kekeringan.
Tanaman yang dihasilkan melalui teknik rekayasa genetika pun dapat diproduksi dalam waktu yang singkat, sehingga produktivitasnya menjadi lebih baik
Langganan:
Postingan (Atom)